Bale Nagi: Pemerataan Ekonomi dan Nilai Spiritualitas

Kampanye sosial dalam bentuk Gerakan Bale Nagi merupakan sebuah hal baru bagi masyarakat Flores Timur yang coba digagas oleh para diaspora Flores Timur seJabodetabek (Ormas Kontas Flores Timur dan Paguyuban Tite Hena) dengan segala keterbatasannya. Namun, tentunya gagasan ini tidak sekedar gagasan kosong tanpa perencanaan yang baik.

Kampanye sosial ini telah melewati banyak pertimbangan dari berbagai aspek khususnya aspek sosial, ekonomi dan spiritualitasnya. Diaspora penggagas sudah melakukan pendekatan dengan berbagai pihak yang merespon positif hingga tercetuslah komitmen bersama antara Ormas Kontas Flores Timur dan Paguyuban Tite Hena dalam sebuah Memorandum of Understanding (MoU) pada Sabtu, 26 Oktober 2019 di Aula SMA Pax Patriae, Taman Galaxi, Bekasi.

Rapat Panitia Nasional Gerakan Bale Nagi – GBN 2020 di Sekretariat Kontas Flores Timur, Kelapa Gading. (Foto: Dok. Panitia GBN 2020).

Sebagai sebuah hal baru tentunya, Gerakan Bale Nagi menimbulkan sekian banyak pertanyaan. Diantaranya dari mana anggarannya, apa manfaatnya dan bagaimana mekanisme pelaksanaanya. Pasca penandatanganan MoU tersebut, terbentuklah Panitia Nasional Gerakan Bale Nagi – GBN 2020 yang terus mempersiapkan dan melakukan koordinasi dengan berbagai pihak dalam rangka merealisasikan Gerakan Bale Nagi yang memiliki spirit Gelekat Lewo ini, sekaligus guna menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan seperti di atas. Lebih jauh, Panitia Nasional Gerakan Bale Nagi – GBN 2020 berkeyakinan akan ada manfaat sosial dan ekonomi yang dapat dikontribusikan oleh setiap diaspora yang terlibat Bale Nagi (Pulang Kampung) ini buat kampung halamannya (Lewo).

Dampak Ekonomi GBN

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati pernah menyatakan bahwa momen mudik Lebaran sangat menguntungkan secara ekonomi sebab aktivitas ekonomi menggeliat pesat selama periode mudik Lebaran. Di samping itu, saat hari Idul Fitri pun aktivitas ekonomi tidak berhenti, terutama bisnis yang terkait konsumsi. Sehingga berdampak pada meningkatnya transaksi dan perputaran uang di tengah masyarakat yang cukup besar.

Analis ekonomi dari Indosterling Capital William Henley, bahkan berpendapat bahwa tradisi mudik Lebaran mampu menciptakan pemerataan perekonomian. Potensi itu didasarkan pada perkiraan Bank Indonesia (BI) yang menyebut peredaran uang yang selalu meningkat di setiap momentum mudik Lebaran.

Flores Timur yang mayoritas masyarakatnya beragama Katolik tentu memiliki momentum yang berbeda untuk Bale Nagi di Hari Raya keagamaannya. Maka Semana Santa sebagai Tradisi Katolik yang telah berusia ratusan tahun dan sudah menjadi ikon pariwisata rohaninya Flores Timur merupakan momentum terbaik bagi para diaspora untuk mudik atau pulang kampung. Berpijak dari sini, Panitia Nasional Gerakan Bale Nagi – GBN 2020 memiliki keyakinan besar bahwa ada manfaat ekonomi yang akan ditinggalkan para diaspora Flores Timur selama berada di kampung halamannya masing-masing.

Ada dua manfaat ekonomi yang dapat terjadi dari Gerakan Bale Nagi – GBN 2020 ini diantaranya; Pertama, akan terjadi distribusi ekonomi secara langsung kepada masyarakat (keluarga) di kampung-kampung ketika para diaspora yang Bale Nagi (Pulang Kampung) memberikan bantuan kepada keluarganya.

Kedua, terjadi pemerataan ekonomi secara langsung. Para diaspora tentunya akan membeli berbagai macam kebutuhan sehari-hari dari hasil kebun petani di kampungnya termasuk makanan dan oleh-oleh khas Flores Timur yang dijual masyarakat setempat. Dampaknya, perputaran ekonomi di kampung mengalami putaran menjadi sedikit lebih cepat. Pendapatan daerah ikut meningkat dari pajak barang dan jasa.

Rapat Panitia Nasional Gerakan Bale Nagi – GBN 2020 di Sekretariat Kontas Flores Timur, Kelapa Gading. (Foto: Dok. Panitia GBN 2020).

Nilai Spiritualitas dari Bale Nagi

Selain manfaat ekonomi yang terjadi dari Gerakan Bale Nagi ini, ada juga nilai spiritualitasnya yang bisa diperoleh para diaspora seperti;

Pertama, Kampung halaman (Lewo) mengandung sejuta makna dalam kehidupan para diaspora. Selain sebagai tempat dilahirkan dan dibesarkan, juga merupakan sumber insiprasi dan spirit untuk bangkit dan maju. Momentum Bale Nagi (Pulang Kampung) di saat Semana Santa, juga diharapkan dapat memperbaharui spirit untuk semakin maju dan berkembang, melalui medium temu keluarga di kampung halaman.

KeduaBale Nagi (Pulang Kampung) merupakan sebuah reaktualisasi diri untuk pulang Kampung (Lewo) sebagai tempat lahir, tapi juga bisa sebagai permenungan untuk kembali ke ‘asal’ yang bersifat transendental yaitu Allah sebagai Sang Pencipta. Manusia ibarat musafir, cepat atau lambat akan kembali kepada Allah Sang Penciptanya.

KetigaBale Nagi merupakan momentum untuk mengenang kembali masa kecil yang inda, juga suasana kehidupan kampung halaman yang penuh dengan suasana egaliter, kebersamaan, persaudaraan dan kedamaian. Tidak ada kemacetan yang memicu stres bahkan depresi, dan lepas sementara dari rutinitas kerja yang menjenuhkan. Ada kepuasan spiritual karena bisa bersilaturrahim dan ziarah kubur orang tua, kakek, nenek dan mereka yang dihormati dan disayangi, sambil mendoakan dan berharap mendapat keberkahan, kemajuan dan keselamatan dalam menjalani kehidupan.

Panitia Nasional Gerakan Bale Nagi – GBN 2020 (Berbagai Sumber).

Tags:
Open chat
1
Pengen tau tentang GBN ?
Hallo...
Ada yang bisa kami bantu ???
Powered by