Gerakan Bale Nagi dan Dampak Ekonomi untuk Flores Timur

Teori ekonomi makro menjelaskan bahwa sumber pendapatan nasional suatu negara atau daerah, selain disumbang oleh faktor pengeluaran pemerintah, investasi dan selisih bersih antara nilai export dan import, juga disumbang oleh faktor konsumsi rumah tangga. Dalam rumus ekonomi: y = c + i + g + ( x- m). Konsumsi rumah tangga harus terus meningkat supaya kegiatan produksi dapat berjalan. Kalau konsumsi rumah tangga macet/stagnan, otomatis berpengaruh terhadap kegiatan produksi masyarakat. Produksi masyarakat akan ikut turun. Karena itu, untuk mendorong agar konsumsi rumah tangga terus meningkat dari waktu ke waktu, tugas pemerintah suatu negara atau daerah adalah menjaga agar daya beli masyarakat tidak menurun, yaitu memastikan setiap rumah tangga keluarga mempunyai sumber penghasilan/pendapatan yang tetap dan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Dalam sejarah kita belajar bahwa salah satu hantu terbesar yang menjadi sumber ketakutan para pemimpin pemerintahan suatu negara/daerah adalah jangan sampai kekuasaannya berhenti di tengah jalan/dipaksa turun oleh rakyatnya gara-gara tidak mampu mengatasi urusan perut rakyatnya karena resesi/krisis ekonomi. Rakyat harus dipastikan makmur, sehat dan cerdas, supaya pemerintah bisa bekerja dengan tenang. Sadar akan hal itu, kita melihat bahwa di banyak daerah/tempat, baik dalam maupun luar negeri, pemerintah selalu berusaha sekuat tenaga untuk mengcreate kegiatan-kegiatan ekonomi guna menjaga agar daya beli masyarakat tidak menurun dan agar pemerintah juga mempunyai sumber pendapatan yang tetap untuk membiayai kebutuhan pembangunan.

Ketika Indonesia mengalami booming minyak di era 1980-an yang menjadi penyumbang terbesar penerimaan negara, pada waktu itu barangkali sektor pariwisata belum dianggap sebagai sesuatu yang penting dan seksi dalam kegiatan ekonomi. Makanya pariwisata di negara kita masih dikelola seadanya, sekedar kegiatan rekreasi biasa. Tetapi belakangan ini, kita melihat bahwa setiap negara saling berlomba-lomba mengcreate kegiatan pariwisata,  dan menciptakan even-even kelas dunia untuk mendatangkan kunjungan wisatawan sebanyak-banyaknya. Negara-negara berlomba-lomba menjadi tuan rumah kegiatan-kegiatan perhelatan kelas dunia seperti piala dunia, olimpiade, asian games, sea games, konferensi internasional, pentas musik, fashion, miss world/miss universe, balap motor/mobil, karena sadar bahwa kegiatan-kegiatan tersebut selalu dan akan beririsan dengan pariwisata yang membawa dampak langsung pada pertumbuhan ekonomi negaranya. Pariwisata kini menjadi sebuah kegiatan ekonomi yang seksi karena dianggap paling cepat memberikan dampak bagi pertumbuhan ekonomi suatu negara/daerah.

Oleh-oleh khas Flores Timur di Pasar Baru Larantuka. (Foto: Travel Kompas).

Dalam kaitan dengan Gerakan Bale Nagi – GBN 2020, kita berharap, semakin lama masa tinggal masyarakat diaspora Flores Timur ketika berlibur ke Flores Timur, maka semakin banyak uang yang ia keluarkan/belanjakan di sana. Barangkali ia akan memberikan uang tunai kepada sanak keluarga/saudara yang ia kunjungi, membeli makanan yang dijual para pedagang, membeli ikan, sayur-sayuran lokal, menyewa kendaraan untuk kesana-kemari selama kegiatan GBN, membeli kelapa muda, jagung titi, aneka produk kerajinan lokal masyarakat. Semakin banyak uang yang ia keluarkan, berarti ada perputaran uang di Flores Timur, karena masyarakat di sana memegang uang dan pemda menerima uang dari pajak daerah yang ia pungut semisal pajak restoran dan rumah makan, pajak hotel, retribusi daerah di objek-objek wisata, dan lain-lain. Dengan demikian ada penciptaan terhadap lapangan kerja baru karena ada peluang-peluang usaha yang bisa dikembangkan di sana setelah melihat potensi ekonomi di Flores Timur. Tentu selalu ada multiplier effect disana. Jika masyarakat diaspora yang datang ke Flotim banyak membeli ikan, berarti para nelayan akan bergairah untuk melaut karena meraka yakin hasil tangkapan mereka terserap oleh pasar. Demikian juga halnya diusaha-usaha produktif masyarakat lainnya. Jadi, capital out flow yang keluar dari Flores Timur karena kegiatan perdagangan barang dan jasa dan perpindahan manusia ke luar suatu daerah, harus juga diimbangi dengan capital in flow yang masuk ke Flores Timur. Capital in flow yang masuk ke Flores Timur selain transfer dana pemerintah pusat yang bersumber dari APBN, kegiatan invetasi langsung, remittance dari masyarakat diaspora dalam dan luar negeri, juga harus didorong melalui devisa dari sektor pariwisata.

Karena itu buat saya, GBN adalah salah satu cara masyarakat Flores Timur mewujudkan rasa cinta akan lewotananya. Dengan pulang kampung berarti dia membantu ekonomi saudara-saudarinya di kampung, selain untuk menimba rahmat dari momentum paskah dengan Semana Santanya, juga sekaligus liburan/rekreasi secara lahir dan batin, melepas rindu, menghilangkan penatnya kehidupan keras di kota metropolitan.

Penulis: Fidelis Lein, Ketua KK Tite Hena Jabodetabek

Open chat
1
Pengen tau tentang GBN ?
Hallo...
Ada yang bisa kami bantu ???
Powered by