Bale Nagi dan Panggilan Pulang Kepada Jiwa Perantau

Gerakan Bale Nagi

Bale Nagi merupakan sebuah terminology orang Lamaholot  Flores Timur yang sama artinya dengan “mudik/pulang kampung”.  Sebagai orang Flores Timur, ketika mendengar kata “mudik” tidak terlalu mengesankan. Namun  beda ketika kita mendengar “bale bagi”.

Bale nagi memiliki kedalaman makna tersendiri, di dalamnya (ketika mendengar bale nagi), ia membangun imajinasi pada kampung halaman, penggalan pengalaman masa kecil sahabat dan semua yang pernah kita lalui di ujung timur Flores itu.

Tidak hanya itu, bale nagi  memiliki filosofi tersendiri bagi para perantau Flores Timur. Bahasa itu tampak bertenaga seperti magnet yang menggenggam kembali ingatan-ingatan akan kehidupan, sosio kultural orang Flores Timur. Flores Timur yang eksotis, laut yang teduh, gunung yang kokoh, senyum ramah orang-orang kampung, adalah sebagian rangkuman kerinduan yang terus mendekap ingatan kita.

Semana Santa dan rayuan sebuah pulang

Pada konteks ini, kita semua akan memiliki kesatuan jawaban yang tidak terpungkiri, bahwa yang paling dekat dengan ingatan dan kerinduan pada jiwa para perantau adalah rangakian perayaan hari raya Paskah umat Katolik di Nagi Tanah, yakni Semana Santa.

Semana Santa yang menempatkan Yesus dan Bunda Maria sebagai kekuatan iman dalam rasa perkabungan, solidaritas kesedihan, siksaan, sengsara, lahir dan wafat adalah denyut dari refleksi iman Katolik Flores Timur, untuk kembali mengenang, mengenal dan menggali lebih dalam kehidupan iman pribadi kita sendiri.

Mengenang Yesus dalam Semana Santa adalah menemukan kembali makna hidup seorang perantau, kita kembali menapaki hakikat perjalanan hidup sebagai anak Lamaholot di perantauan, yang sekian tahun menjalani rutinitas pekerjaan di kota-kota besar, meneguk anggur pahit dan manis kehidupan kita, dan  mengenang Bunda Maria adalah mengenang seorang ibu yang merindukan kembali anaknya untuk kembali pada pelukannya.

Tradisi warisan Portugis sekitar 500 tahun yang meleburkan ritus iman Katolik dan adat Lamaholot ini tidak sekadar dilihat sebagai pesta iman, kesombongan iman yang menampakkan wajah paling Katolik di Indonesia. lebih dari itu, Semana Santa adalah oase bagi jiwa-jiwa yang kemarau, tergerus oleh badai zaman di era digital, dan mengingatkan kita sejenak menepi dari segala hiruk pikuk kerjaan yang membosankan.
(Bagian 1 )

Salam Bale Nagi.

Penulis Yogen Sogen, penulis Buku Di Jakarta Tuhan Diburu dan Dibunuh

Open chat
1
Pengen tau tentang GBN ?
Hallo...
Ada yang bisa kami bantu ???
Powered by